Alasan Utama Pendidikan di Papua Menjadi Tertinggal

Apakah kalian tahu jika salah satu pulau terbesar di dunia terletak di Indonesia bagian timur? Jawabannya adalah pulau Papua. Papua memang merupakan pulau terbesar kedua di dunia dengan luas wilayah mencapai 785.753 kilometer persegi. Meskipun dengan capaian tersebut, sumber daya manusia (SDM) di Papua masih tertinggal dalam dunia pendidikan terutama pada masyarakat pedalaman.

5 Alasan Yang Membuat Pendidikan di Papua Jadi Tertinggal

Melihat masalah pendidikan di Papua yang masih tertinggal, membuat masyarakatnya pun menjadi terlihat lebih suram dan makin terbelakang. Banyak juga yang terkena buta huruf sebagai dampak dari minimnya pendidikan yang ada di Papua. Sulitnya mendapatkan pendidikan mengakibatkan pola berpikir para orang tua yang mendidik anaknya untuk lebih baik bekerja daripada meningkatkan kualitas hidup dengan belajar formal dibangku sekolah.

Dari data yang diperoleh United Nations Children’s Fund (UNICEF) menyatakan bahwa masyarakat di pedalaman Pulau Papua hanya menyelesaikan pendidikan sampai dengan SMP bahkan saking sulitnya sarana prasarana yang ada di sana membuat banyak anak-anak yang berhenti sekolah.

Dari permasalahan tersebut timbul beberapa penyebab baik secara internal maupun eksternal mengapa sampai sekarang pendidikan di Papua masih tertinggal. Padahal apabila tidak segera diatasi bukan hanya merampas hak masyarakat untuk mengenyam masa depan yang cerah bahkan juga bisa mengancam keberlanjutan hidup orang- orang asli Papua.

Sehingga dengan adanya penjelasan tersebut menjadi gambaran umum tentang permasalahan pendidikan yang ada di wilayah Papua yang sedang mengalami ketertinggalan. Oleh karena itu akan kami bagikan secara detail alasan mengapa di wilayah Papua dalam bidang pendidikan mengalami ketertinggalan, diantaranya sebagai berikut ini :

  1. Kurangnya Tenaga Pendidik 

Kehadiran guru dalam dunia pendidikan akan sangat menentukan kelancaran belajar mengajar yang efisien. Kurangnya tenaga pendidik ini juga dapat diklasifikasikan pada daerah pedesaan yang sangat tertinggal. Lebih banyak guru yang memilih untuk mengajar di area perkotaan seperti Jayapura, Timika, dan Merauke.

Hal tersebut dikarenakan beban kinerja yang lebih ringan jika dibandingkan mengajar di wilayah pedalaman Papua. Pada dasarnya menjadi seorang tenaga pendidik seharusnya bisa menerima konsekuensi dari pekerjaannya tersebut.

Apalagi jika mengingat keberadaan orang-orang asli Papua bertempat tinggal di kampung atau distrik daerah pegunungan dan pesisir yang sudah pasti membutuhkan pendidikan. Namun pada kenyataannya hanya sedikit guru yang mau mengajar didaerah terpencil dengan berbagai faktor penghambatnya diantaranya adalah :

  • Kurangnya kehadiran guru yang berkualitas pada jenjang pendidikan di Papua
  • Rendahnya tingkat keamanan dari konflik dan perang antar suku pedalaman
  • Kurangnya dukungan pemerintah untuk mendukung kompetensi guru lokal di Papua
  • Lebih banyak guru honorer, ketimbang guru pegawai negeri sipil
  • Beragam alasan bagi para guru PNS untuk menghadiri rapat atau seminar
  • Rendahnya kegiatan akademik secara langsung
  1. Kurangnya Bangunan Sekolah

Banyak sekali bangunan yang tidak layak untuk dijadikan tempat sekolah di wilayah pedalaman Papua. Dari mulai atap bangunan yang mulai bocor dan fasilitas yang kurang memadai membuat anak-anak semakin malas dalam kegiatan belajar mengajar.

Infrastruktur lainnya juga mempengaruhi ketertinggalan pendidikan di Papua serta tingkat kesadaran untuk meningkatkan mobilitas sosialnya cukup rendah. Tidak heran jika di sana banyak sekali anak-anak yang putus sekolah dan buta huruf karena yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana agar tetap bisa bertahan hidup dan masih mempunyai tempat tinggal.

  1. Minimnya sarana dan prasarana

Ketimpangan yang terjadi di wilayah perkotaan Papua dan wilayah pedesaan terlihat sangat jelas perbedaannya dalam memperkuat layanan pendidikan. Bagi orang-orang asli Papua yang ingin bertekad menempuh pendidikan yang tinggi mereka juga harus melalui berbagai perjalanan yang ditempuh demi untuk bersekolah dengan fasilitas yang memadai.

Hal tersebut tidak akan terjadi apabila kebutuhan sarana dan prasarana telah tercukupi, namun pada kenyataannya distribusi tempat pendidikan hanya terpusat di perkotaan. Tidak sedikit bagi orang-orang asli Papua yang menyerah untuk tidak begitu memikirkan pendidikan karena harus menempuh jarak yang jauh bahkan harus melewati sungai dan jika musim hujan akan mengganggu perjalanannya yang becek kemudian mengotori seragam sekolah.

  1. Kurangnya Kesadaran Pemerintah 

Pemerintah di Papua seharusnya mencari cara agar masalah ini cepat dalam proses sehingga dapat mengentaskan ketertinggalan pendidikan yang jika dibiarkan akan menjadi ancaman tersendiri bagi negeri ini.

Berdasar atas rendahnya pendidikan yang diperoleh masyarakat di Papua yang tidak merata akan mengakibatkan ketidakmampuan masyarakat untuk mengetahui sistem pemerintahan dan bahayanya lagi akan terjadi banyak konflik yang disebabkan karena kurangnya keberhasilan mengatasi masalah pentingnya wawasan bagi masyarakat Papua.

  1. Tidak Ada Biaya 

Biaya menjadi faktor paling utama untuk melanjutkan jenjang pendidikan. Meskipun sudah banyak beasiswa yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah, namun hal tersebut tidak menjadi kelonggaran bagi masyarakat untuk terbuka dalam bidang pendidikan tersebut. Pasalnya program beasiswa ini tidak terpantau dengan baik. Akibatnya, bagi penerima beasiswa tidak mendapatkan keahlian atau arahan Ketika lulus sekolah.